Buat banyak orang,tidak bisa mempunyai keturunan adalah sesuatu yang sangat menyedihkan. Namun pria yang tak punya anak ternyata risiko terkena kanker prostatnya lebih rendah.Fenomena ini menarik perhatian para peneliti untuk digunakan dalam pengobatan kanker prostat.
Yasir ruhavel,Mahasiswa program doktor dari Lund University dan dokter dari Skane University Hospital,mendasarkan penelitiannya pada diet Malmo dan studi populasi kanker.Ia membandingkan sekitar 450 pria dengan kanker prostat dengan sejumlah pria sama dalam kelompok terkontrol yang belum pernah di diagnosis terkena kanker prostat.
Tesis tersebut menguatkan penemuan dalam penelitian sebelumnya yang sudah menunjukkan hubungan antara tak punya anak dan kanker prostat.Namun,tesis ini memberikan hasil yang lebih detail. Kesimpulan penting yang didapat dari tesis ini adalah hubungan antara berkurangnya resiko kanker prostat dan subfertilitas yang lebih kuat dibandingkan hubungan kanker prostat dengan faktor-faktor lain yang sudah dipelajari seperti pola makan,merokok,konsumsi alkohol dan sejumlah penyakit lain.
Yasir ruhavel juga meneliti variasi gen tertentu yang mungkin ada hubungannya dengan risiko kanker prostat pada pria subfertil.”Kami menemukan asosiasi genetik tertentu,tetapi hasilnya masih terlalu dini. Diperlukan penelitian besar yang melibatkan sejumlah besar pria sebelum hasil genetik itu di verifikasi,”katanya.
Salah satu kandidat gen yang diidentifikasi adalah gen AHR yang berinteraksi dengan sistem sinyal hormon pria dan wanita. AHR juga dikenal sebagai reseptor dioksin,karena menjadi mediasi efek berbahaya dioksin beracun dari lingkungan yang menyebabkan ketidaksuburan.
Jika penelitian di masa mendatang bisa dengan akurat menentukan gen yang bisa mengurangi risiko kanker prostat,penelitian itu bisa membuka kemungkinan baru pembuatan obat yang manjur untuk kanker prostat. Tentu saja sebelum itu terjadi, gen-gen dengan kandungan yang sesuai harus dipertimbangkan dalam konteks yang lebih luas karena berkurangnya kesuburan disebabkan oleh banyak faktor.
Kandungan yang bisa menghalangi terjadinya kanker harus dipisahkan dan diisolasi dari kandungan yang bisa menimbulkan ketidaksuburan.
Kanker prostat umumnya terjadi pada pria lanjut usia.Empat dari lima kasus terdiagnosis pada pria berusia lebih dari 65 tahun. Hanya 1 persen yang terjadi pada pria usia di bawah 50 tahun. Pria dengan riwayat keluarga kanker prostat lebih berisiko terkena di kemudian hari.
Hingga saat ini belum diketahui apa yang menyebabkan terjadinya kanker prostat.Para ahli secara umum setuju bahwa pola makan kaya lemak hewani adalah yang paling bertanggung jawab menyumbang resiko kanker prostat. Penyakit ini juga lebih umum di temui di negeri yang banyak mengonsumsi susu dan daging,dibanding di negara yang penduduknya makan nasi,kedelai,dan sayuran.
Para ahli menduga pola makan dan kanker prostat dihubungkan oleh faktor hormonal.Lemak dalam sumber hewani menstimulasi produksi testosteron dan hormon lain. Testosteron inilah yang mempercepat pertumbuhan sel kanker. Kadar testosteron yang tinggi menstimulasi sel kanker yang tidur menjadi aktif.
Daging yang dimasak dalam temperatur tinggi juga menyebabkan produksi zat penyebab kanker yang mempengaruhi kesehatan prostat. Faktor resiko lain yang memicu kanker prostat adalah kurang aktifitas dan merokok.
Terapi Gen
Penelitian baru menemukan hasil menarik yang bisa jadi masa depan pengobatan kanker prostat. Ternyata ada hubungan jelas antara subfertilitas pria dan resiko kanker prostat. Itu menurut sebuah tesis dari Lund University di Swedia. Menurut penelitian itu,pria yang tak secara sengaja tidak punya anak memiliki resiko lebih rendah 50 persen terkena kanker prostat dibandingkan dengan pria yang punya paling tidak satu anak.(Gaya hidup sehat)






