Hubungan dislipidemia dengan aterosklerosis

Dislipidemia atau kelainan lemak tubuh biasanya di tandai dengan naiknya kolesterol total,kolesterol jahat LDL,dan trigliserida,serta turunnya kadar kolesterol baik HDL. Kondisi ini jelas tidak boleh dianggap ringan,mengingat dislipidemia merupakan cikal bakal timbulnya aterosklerosis yang selanjutnya dapat memicu terjadinya penyakit kardiovaskular,seperti penyakit jantung,stroke,dan penyakit pembuluh darah tepi.

Aterosklerosis seperti di jelaskan  Dr.Dyah Purnamasari SpPD,yaitu pengerasan timbunan kolesterol  atau lemak dan jaringan ikat pada dinding pembuluh darah.”terbentuknya aterosklerosis ini secara perlahan.Kalau terjadi pada pembuluh darah jantung atau koroner bisa di tandai keluhan nyeri dada,”lanjut spesialis penyakit dalam dari divisi Metabolik Endokrinologi,Departement Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM ini.

Menurut studi di DKI tahun 2006 yang melibatkan 1.591 orang usia 25-60 tahun.diketahui bahwa 73,3 persen dari responden mengalami dislipidemia. Dari sisi berat badan 14 persen mengalami obesitas parah,34,3 persen obesitas,18,4 persen kelebihan berat badan,27,3 persen normal,dan 6 persen kekurangan berat badan.

“Jadi sekitar 67 persen memiliki berat badan yang beresiko mengalami berbagai gangguan metabolik atau sindrom metabolik yang akan menyebabkan aterosklerosis,”ucap Dr.Dyah. Ditambahkan bahwa ukuran lingkar perut lebih dari 90 cm pada pria dan lebih dari 80 cm pada wanita harus diwaspadai sebagai tanda sindroma metabolik.

Skrining lebih awal

Karena dislipidemia ini tanpa gejala apapun,untuk mengetahuinya harus menjalani skrining. Meski tanpa keluhan,komplikasi akan jalan terus. “Kalau sudah ada gejala seperti sesak nafas,atau kaki gampang sekali pegal-pegal,bisa jadi sudah ada komplikasi ke jantung atau kaki.”ungkapnya.

Skrining kadar kolesterol setidaknya dilakukan sejak usia 30 tahun untuk pria,dan 40 tahun pada wanita. Jika ada faktor resiko seperti obesitas,riwayat dalam keluarga,dan lainnya,dianjurkan untuk melakukan skrining lebih awal.

Di samping rutin skrining,modifikasi gaya hidup antara lain dengan menurunkan berat badan yang berlebih,diet sehat seimbang,berhenti merokok dan olahraga juga harus dilakukan.

Kata Kunci menuju artikel ini :hubungan dislipidemia dengan hipertensi
This entry was posted in Artikel kesehatan and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>