Nutrisi cegah obesitas pada anak

Meningkatnya obesitas di kalangan anak anak menjadi masalah kesehatan di banyak negara berkembang seperti indonesia.lembar fakta badan kesehatan dunia (WHO) tahun 2010 menunjukan sekitar 43 juta anak balita mengalami kelebihan berat badan.hampir 35 juta anak yang kelebihan berat badan tinggal di negara berkembang,sisanya berada di negara maju.indonesia,sebagai Negara berkembang,tak luput dari masalah ini.sayangnya, di Indonesia, masalah yang terjadi tidak hanya obesitas. anak dengan gizi kurang pun masih banyak ditemui.hal tersebut membuat indonesia memiliki beban ganda dalam urusan gizi anak

“Obesitas pada anak menjadi masalah karena merupakan awal dari gangguan yang akan muncul masa dewasa kelak,” tutur dr. damayanti rusli sjarip,Sp.A(K),dalam temu media beberapa waktu lalu di Jakarta.

Yang juga menjadi perhatian adalah bahwa anak obesitas memiliki masalah psikososial.penelitian yang dilakukan dwi fachri et al (2009), seperti dijelaskan dr. damayanti, 27,7 persen anak obesitas memiliki masalah emosional dan prilaku.

bila tidak dipilih untuk bermain dalam olah raga kelompok, anak obesitas sering diejek. “Dan mereka kemudian merasa tersisih,” sebut konsultan gizi anak dari bagian Gizi dan penyakit Metabolik anak departemen ilmu kesehatan anak FKUI/RSCM ini.

Obesitas pada masa anak-anak menjadi masalah karena sulitnya menurunkan berat badan dan mempertahankan berat yang sudah turun dalam jangka panjang.

DIPENGARUHI DUA FAKTOR

Ada dua faktor yang memengaruhi obesitas, yaitu faktor genetik dan  lingkungan. untuk genetik,anak obesitas biasanya memiliki orangtua yang obesitas juga. jika salah satu dari orangtua menderita obesitas, anak 40 persen kemungkinan mengalami obesitas. bila kedua orangtua obesitas, kemungkinan nya meningkat menjadi 70 persen.

Faktor lingkungan berkaitan dengan tingkat metabolisme tubuh anak. aktivitas fisik, budaya, dan asupan makanan. di indonesia, anak-anak yang hidup di perkotaan memiliki kecenderungan mengonsupsi makanan tinggi energi dan lemak.

Hal itu dipengaruhi oleh kebiasaan jajan serta ketersediaan dan keterjangkauan makanan yang kurang sehat.

Studi yang dilakukan terhadap anak usia sekolah dasar yang mengalami obesitas di 3 sekolah swasta tahun 2002 di jakarta menunjukan, 64 persen anak mengasup energi lebih dari 120 persen, sedangkan 72 persen responden mengasup lemak lebih dari 30 persen. berarti anak-anak semakin banyak makan, dan makanan yang dikomsumsi kebanyakan berlemak.

Trend yang ada, kantin sekolah, seperti dikatakan DR.Damayanti, kebanyakan menjual burger dan pizza. jarang sekali atau malah tidak ada yang menjual gado-gado karena tidak populer.

Di rumah, karena orangtua bekerja, tidak ada yang memasak makanan sehat. sebagai gantinya,anak memilih jasa hantaran.contoh lain, saat berjalan-jalan di mal, tak sedikit keluarga menyantap makanan di restoran cepat saji. Restoran tersebut semakin diincar, terutama oleh anak-anak, bila ada embel-embel hadiah mainan.

Di sisi lain,aktivitas fisik rutin anak-anak tersebut pun tidak rutin. hanya 10,6 persen yang melakukan olah raga tiga kali sepekan, sebanyak 39,4 persen berolah raga sepekan sekali, dan sisanya tidak rutin berolah raga.

Menilik kegiatan anak-anak sekolah saat ini, obesitas rentan terjadi. “Anak pulang sekolah sudah ada les. kalau tidak les, mereka memilih menonton televisi di rumah,”ujar DR.Damayanti.

Selain itu, anak-anak yang mestinya bisa berangkat atau pulang sekolah dengan berjalan kaki, sekarang lebih sering diantar. penyebabnya banyak. Trotoar yang berkurang karena dipakai untuk berjualan maupun kekhawatiran orangtua terhadap keselamatan anak dengan maraknya pemberitaan penculikan dan lain sebagainya.

“Anak yang mestinya bisa hidup sehat tanpa kelebihan berat badan bisa menjadi kelebihan badan atau obese karena cara hidup yang salah,”ucap DR.Damayanti.

kebanyakan anak yang gemuk itu kemudian menjadi obese bisa diperbaiki dengan  intervensi sejak dini, dimulai menerapkan perilaku sehat dalam hal makan dan aktivitas serta modifikasi perilaku dengan menjadikan orang tua sebagai panutan.(Sumber GHS)



This entry was posted in Artikel kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>