Kasus obesitas meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 1980 di seluruh dunia. Estimasi tahun 2008, sekitar 500 juta orang dewasa berusia 20 tahun atau lebih mengalami kelebihan berat badan maupun kegemukan. Selain berpengaruh terhadap penampilan, kegemukan potensial meningkatkan gangguan kesehatan. Risikonya mulai dari diabetes tipe-2 hingga stroke.
Obesitas berarti memiliki kelebihan lemak dalam tubuh yang membuat kesehatan seseorang dalam bahaya. obesitas disebabkan rasio jumlah kalori yang dimakan lebih besar daripada kalori yang dibakar. kebiasaan makan, seberapa aktif, dan hal-hal lainya memengaruhi bagai mana tubuh menggunakan kalori. keluarga juga berperan dalam masalah tersebut. karena dari keluarga terbentuk pola makan, kebiasaan, dan gaya hidup.
”Pola hidup yang sibuk membuat seseorang seringkali kesulitan merencanakan, memasak, serta menyantap makanan sehat. lebih mudah pergi kerestoran cepat saji, meski kandungan lemak dan kalorinya cukup tinggi,” papar Dr. Arief wibowo,Sp.PD
Jadwal kerja yang padat dan gaya hidup sedentari menjadikan waktu untuk berolah raga hampir tidak atau menjadi sedikit sekali. sebagai akibat dari pola dan gaya hidup demikian, berat badan terus bertambah. terjadilah kelebihan berat badan hingga obesitas. Pengaruh obesitas terhadap kesehatan ini bergantung pada jenis kelamin, usia penyebaran lemak tubuh, dan aktifitas fisik. hanya sajah, mereka dengan obesitas memiliki risiko lebih tinggi untuk penyakit.
“Seperti diabetes tipe-2, penyakit jantung, hipertensi, artritis, henti napas saat tidur, dan stroke meningkat,” imbuh dokter sepesialis penyakit dalam dari RS Sahid sahirman, jakarta ini.
Diabetes tipe-2 terjadi sebagai akibat sel-sel tubuh yang resisten terhadap insulin. akhirnya kadar gula darah meninggi.
insulin adalah hormon yang membantu sel tubuh mendapatkan energi yang di butuhkan dari gula. insulin tidak dapat melakukan tugasnya bila terlalu banyak gula menumpuk di dalam darah. sejalan dengan waktu, timbunan gula dalam darah dapat menyebapkan komplikasi atau masalah dengan mata, jantung, saraf, dan lain sebagainya. namun diabetes tipe-2 dapat dicegah atau ditunda bila seseorang mempertahankan berat badan sehat dan berolah raga secara teratur.
gangguan hipertensi meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. obesitas juga menjadi faktor risiko hipertensi, selain merokok, terlalu banyak minum alkohol, dan riwayat keluarga.
Hiperkolesterolemia
Tterjadi bila kadar kolesterol abnormal. Ditandai kadar LDL (lemak jahat) tinggi atau HDL (lemak baik) rendah, dan menjadi faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke.
Pola makan tidak sehat dapat menjadi resiko kolestrol tinggi. meski demikian, kadar kolestrol yang tinggi dalam darah juga merupakan genetik di dalam keluarga. karena itu, diet rendah kolestrol perlu di terapkan guna membantu menurunkan kadar kolestrol.
Penyakit jantung koroner (PJK)
PJK terjadi akibat akumulasi plak dalam dinding arteri koroner jantung yang memasok otot jantung dengan oksigen dan nutrisi. obesitas dan kolestrol tinggi, hipertensi, serta merokok menjadi faktor risiko PJK.
Kerusakan otak disebabkan oleh tersumbatnya pembuluh darah atau perdarahan di otak. faktor risiko stroke adalah obesitas, kolestrol tinggi, dan hipertensi.
Melihat sedemikian baanyak resiko obesitas,Dr. arif menganjurkan mereka yang mengalami obesitas untuk menurunkan berat badan. “Turunkan 10 persen dari berat badan anda sekitar 0,5 -1 kg per pekan sebagai target pertama. penelitian menunjukkan bahwa penurunan risiko penyakit degeneratif,” kata anggota persatuan Ahli penyakit dalam indonesia jakarta ini. Pertahankan penurunan berat badan turun banyak dan kemudian dengan cepat kembali naik. caranya dengan tetap menyeimbangkan pola makan dan aktivitas fisik. memang kendalanya, tak sedikit di antara mereka dengan obesitas merasa sulit mengubah kebiasaan makan dan berolah raga.”anda bisa melakukannya jika memiliki motivikasi dan rencana penurunan berat badan yang baik,” sebut Dr. Arief.






